Ketika Pendidikan Islam Tertinggal oleh Algoritma: Kritik Tajam dan Arah Baru di Era Peradaban Digital

By Admin on Dec 29, 2025 198x dibaca

Ketika Pendidikan Islam Tertinggal oleh Algoritma: Kritik Tajam dan Arah Baru di Era Peradaban Digital

Indonesia. “Pendidikan Islam bukan hanya mengajarkan agama, tetapi menumbuhkan manusia beradab di tengah peradaban digital.” Kalimat ini bukan sekadar slogan visual. Ia adalah kritik mendalam sekaligus peringatan serius bagi arah pendidikan Islam di Indonesia hari ini.


Di tengah laju teknologi digital yang kian tak terbendung mulai dari kecerdasan buatan, media sosial, hingga algoritma yang mengatur perilaku manusia pendidikan Islam justru berada di persimpangan jalan. Apakah ia akan menjadi penonton pasif yang tertinggal oleh algoritma, atau tampil sebagai penuntun nilai dalam peradaban digital?


Bukan Krisis Teknologi, Melainkan Krisis Orientasi

Selama ini, kritik terhadap pendidikan Islam sering berhenti pada isu teknis: kurikulum yang padat, metode ceramah yang monoton, atau keterbatasan fasilitas. Namun kritik semacam ini belum menyentuh akar persoalan. Masalah utama pendidikan Islam hari ini bukan karena kurang digital, melainkan karena kehilangan orientasi nilai. Pendidikan terlalu sibuk mengejar target administratif nilai, ijazah, dan kelulusan hingga melupakan tujuan hakikinya: membentuk manusia beradab.


Di era digital, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kecakapan akademik. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan peserta didik menggunakan ilmu dan teknologi secara bertanggung jawab, beretika, dan bermakna bagi kemanusiaan.


Generasi Cerdas, Tapi Kehilangan Kompas Moral

Fenomena yang muncul hari ini semakin mengkhawatirkan. Kita menyaksikan lahirnya generasi yang sangat akrab dengan teknologi, namun rapuh secara moral dan spiritual. Mereka cepat mengakses informasi, tetapi lambat dalam refleksi. Aktif di ruang digital, namun pasif dalam kehidupan sosial nyata.

Inilah paradoks peradaban digital: kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan etika. Ketika pendidikan Islam gagal hadir sebagai penuntun nilai, krisis pembelajaran berubah menjadi krisis kemanusiaan.


Teknologi sebagai Ruang Dakwah Peradaban

Pendidikan Islam kerap bersikap defensif terhadap teknologi, memandangnya sebagai ancaman moral. Padahal, teknologi sejatinya bersifat netral. Yang menentukan adalah nilai yang membimbing penggunaannya.

Media sosial, kecerdasan buatan, dan platform digital seharusnya diposisikan sebagai ruang dakwah peradaban, bukan sekadar alat bantu belajar. Di sanalah nilai kejujuran, amanah, keadilan, dan tanggung jawab sosial diuji setiap hari. Ketika pendidikan Islam mampu memandu teknologi dengan nilai, maka kemajuan digital tidak akan kehilangan arah kemanusiaannya.


Menafsir Ulang Adab di Era Digital

Salah satu persoalan mendasar adalah penyempitan makna adab. Selama ini, adab sering direduksi menjadi sopan santun formal. Padahal, di era digital, adab harus dimaknai lebih luas: sebagai kesadaran etis dalam bermedia, tanggung jawab sosial di ruang daring, serta kematangan spiritual dalam menghadapi dunia virtual yang kompleks dan sering manipulatif. Tanpa redefinisi adab, literasi digital akan terus pincang cerdas secara teknis, tetapi miskin secara moral.


Pendidik sebagai Teladan Peradaban, Bukan Sekadar Pengajar

Perubahan arah pendidikan Islam tidak akan terjadi tanpa reposisi peran pendidik. Guru dan dosen tidak cukup hanya menjadi penyampai materi, tetapi harus tampil sebagai teladan peradaban digital figur yang mampu menjelaskan hubungan antara ajaran Islam dengan persoalan nyata seperti etika bermedia, hoaks, algoritma, dan tanggung jawab kemanusiaan dalam penggunaan AI. Di sinilah pendidikan Islam menjadi hidup, relevan, dan membumi bagi generasi digital.


Menjadi Pengarah, Bukan Pengikut Perubahan

Gagasan paling mendasar dari kritik ini adalah tuntutan agar pendidikan Islam berani mengambil posisi strategis sebagai pengarah peradaban, bukan sekadar pengikut perubahan. Di tengah disrupsi digital, pendidikan Islam justru harus tampil sebagai sumber nilai, penjaga kemanusiaan, dan kompas moral bangsa. Pendidikan Islam akan kehilangan maknanya jika berhenti pada pengajaran agama semata. Namun ia akan menemukan kembali relevansinya ketika mampu menumbuhkan manusia beradab beriman, berilmu, berakhlak, dan bijak hidup di tengah peradaban digital. Di era algoritma, tantangan terbesar pendidikan Islam bukanlah teknologi. Tantangannya adalah bagaimana menjaga kemanusiaan tetap hidup di dalamnya.

 

✍️Oleh:Elihami Abdul Hafid (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malaysia)


← Back to Posts