Dari Desa ke Dunia: Catatan Mahasiswa UMAM tentang Kepemimpinan Akademik yang Tak Menunggu Uban

By Admin on Dec 31, 2025 166x dibaca

Dari Desa ke Dunia: Catatan Mahasiswa UMAM tentang Kepemimpinan Akademik yang Tak Menunggu Uban

Di tengah ritme dunia kampus Indonesia yang kerap bergerak lambat dan hierarkis, sebuah kisah muncul dari arah yang tak banyak diduga. Bukan dari kampus elite ibu kota, melainkan dari Sulawesi Selatan. Pada usia 37 tahun, seorang akademisi telah menjabat Wakil Rektor, menyandang jabatan fungsional Associate Professor (Lektor Kepala), masuk jajaran Top 100 nasional bidang teologi tahun 2026, mengantongi dua gelar doktor dari Indonesia dan Filipina, serta kini melanjutkan doktor ketiganya di Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM). Sebuah perjalanan yang secara halus, namun tegas, menggugurkan mitos lama bahwa kepemimpinan akademik harus menunggu uban.


Bagi banyak dosen, usia produktif sering kali dihabiskan untuk bertahan: mengurus BKD, mengejar angka kredit, dan menanti giliran struktural. Namun bagi sebagian kecil akademisi, fase ini justru menjadi masa akselerasi—saat keberanian berpikir dan konsistensi kerja ilmiah bertemu, lalu bergerak melampaui kebiasaan lama.


Sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malaysia, saya menyaksikan langsung bagaimana dunia akademik global bergerak cepat. UMAM, sebagai kampus lintas negara, mempertemukan Indonesia, Malaysia, dan Asia Tenggara dalam satu ruang dialog. Diskusi berlangsung intens, gagasan diuji lintas budaya, dan satu kesimpulan menjadi semakin jelas: pengaruh akademik hari ini tidak lagi ditentukan oleh usia atau lama mengabdi, tetapi oleh keberanian berpikir dan ketekunan bekerja.


Dalam lanskap seperti itulah sosok akademisi asal Sulawesi Selatan ini terasa relevan. Ia tidak datang dari pusat kekuasaan akademik. Ia berangkat dari desa, dari kampus daerah, dari tradisi nilai Islam yang kerap dianggap “pinggiran” dalam percakapan global. Namun justru dari titik itu ia masuk ke arena dunia—bukan sebagai penonton globalisasi pendidikan, melainkan sebagai bagian aktif dari dialog global.


Dua gelar doktor yang telah diraihnya bukan sekadar simbol prestasi. Ia menjadikannya fondasi intelektual yang saling menguatkan: antara sistem dan nilai, tata kelola dan etika, kebijakan dan spiritualitas Islam. Kombinasi ini langka, dan karena itu sering kali tidak nyaman bagi cara berpikir lama yang memisahkan ilmu, manajemen, dan moralitas.


Dalam berbagai forum akademik, khususnya saat membahas masa depan pendidikan Islam, kecerdasan buatan (AI), dan literasi digital, ia konsisten menyuarakan pesan yang sama: AI tanpa etika hanya akan mempercepat kekosongan makna. Kampus yang terlalu sibuk mengejar akreditasi, ranking, dan platform digital berisiko melupakan misi utamanya membentuk manusia seutuhnya.


Pandangan ini menemukan relevansinya di lingkungan Muhammadiyah lintas negara. Di UMAM, saya belajar bahwa pendidikan global bukan tentang meninggalkan akar, tetapi justru menguatkannya agar mampu berdialog dengan dunia. Nilai Islam bukan beban masa lalu, melainkan kompas di tengah disrupsi teknologi.


Yang membuat kisah ini semakin bermakna, di tanah kelahirannya sendiri ia juga memikul amanah struktural sebagai pimpinan perguruan tinggi. Kepemimpinan itu dijalani bukan sebagai simbol kekuasaan, melainkan ruang pengabdian: membangun budaya riset, membina dosen muda, dan menjaga kampus agar tidak terjebak dalam rutinitas administratif yang melelahkan namun miskin arah. Kerjanya sunyi, nyaris tak viral, tetapi dampaknya terasa perlahan dan berjangka panjang.


Inilah sisi kepemimpinan akademik yang jarang disorot. Pengaruh sejati tidak selalu berisik. Tidak selalu trending. Namun bekerja konsisten di ruang kebijakan, riset, dan pembinaan manusia. Dunia akademik global hari ini justru mencari figur-figur seperti ini: tenang, bernilai, dan tahan uji. Fenomena ini sekaligus mematahkan banyak asumsi lama bahwa akademisi daerah hanya relevan di daerah, bahwa pengaruh global hanya milik kampus elite, dan bahwa perubahan harus menunggu giliran. Fakta hari ini menunjukkan hal sebaliknya.


Dari Sulawesi Selatan, sedang tumbuh model kepemimpinan akademik baru: berpijak pada nilai Islam, terbuka pada dunia, dan kritis terhadap euforia teknologi. Kepemimpinan yang tidak reaktif, tetapi reflektif. Tidak ribut, tetapi menggerakkan.


Barangkali di situlah pelajaran terpentingnya. Dunia akademik hari ini tidak lagi menunggu uban. Ia menunggu keberanian. Dari desa ke dunia, dari nilai ke kebijakan, kepemimpinan akademik baru sedang bertumbuh tenang, bernilai, dan semakin sulit diabaikan.


Oleh. Elihami Abdul Hafid

← Back to Posts